Archive for December, 2007

KARIMUN JAWA Island the Paradise Trip

The Marine National Park Karimun Jawa is 110,000 ha and lies 90 km north east of Jepara in Central Java . The Karimun Jawa Islands comprise an archipelago of 27 small islets, of which Karimun Jawa is the largest. Only seven of the islands are inhabited. The vegetation consists mainly of mangrove and beach forest, although there is some lowland rain forest on Karimun Jawa. Most of the islands are surrounded by sandy beaches and fringing coral reefs. Fresh water is confined to a few small wells and forest streams on Karimun Jawa.
The average tidal range is 92 cm.

(H-0) Jakarta – Semarang
By AC Bus to Semarang, sleep on the way

(H-1) Semarang – Karimun
By fast ferry to Karimun Jawa and check in to Hostel.
Island Trip for Snorkeling, fishing & sunset hunting
Dinner party and ice breaking game

(H-2) Explore the Karimun Island
Island trip to Menjangan Kecil, Tanjung Gelam, krakal besar dan Pulau Menjangan Besar,
considering time and enjoyment.

(H-3) Back to Jepara – Semarang – Jakarta
After breakfast back to Jepara by ferry and to Semarang and Jakarta by AC Bus

UJUNG KULON National Park

River Canoeing Challenge
CIGENTER & CIKABEUMBEUM river
Perjalanan ke Taman Nasional Ujung Kulon adalah ekspedisi yang mencengangkan, kita akan memasuki suasana purba dan menembus Zona inti yang mencengangkan.
Ekspedisi ini menyusuri sungai Cigenter yang terkadang menjadi tempat minum Badak bercula satu di sungai tersebut. Kalau anda ingin membayangkan sebesar apa Badak bercula satu itu, datanglah ke Museum Zoologi di dekat Kebun Raya Bogor, tingginya sekitar 170 cm, menakjubkan !
Perjalanan dengan traditional Canoe masuk kepedalaman Sungai Cigenter kita akan disuguhi berbagai jenis Hutan mangrove, puluhan burung berkicau menemani kita disepanjang sungai Cigenter, terkadang kita bisa melihat kepak suara Burung Rangkong yang terdengar seperti kitiran suara Helikopter, mendebarkan !
Esoknya kembali kita menyusuri sungai Cikabeumbeum yang memiliki hutan mangrove yang sangat berbeda dengan sungai Cigenter , bermalam di lodge Pulau Handeuleum yang memiliki pemandangan beberapa pulau disekitarnya sungguh suasana yang begitu berbeda dengan pulau Peucang
Jangan lewatkan ekspedisi yang sangat bernilai ini !!

Paket : 3 days 2 night
Durasi : 3 hari 2 malam
Kegiatan : Experiential recreation program
Two Hour rafting trip
Paintball
Fasilitas :
Akomodasi : 1 malam di Nusa Traditional Cottages,
1 malam di Didesa Resort Pelabuhan Ratu,
Meal : 2x makan malam, 2x makan pagi, 3x makan siang, 4x rehat kopi + snack
Reflexology : 30 minutes massage of the feets reflex points to restore health and harmony Outing Program : Experiential recreation program, design program, perlengkapan keamanan, perlengkapan games, fasilitator.

Two hour rafting trip, rafting equipment, sertifikat, Asuransi, tim medis (evakuasi dengan kendaraan 4×4 dan helikoper khusus untuk emergency), tim rescue (dilengkapi dengan radio komunikasi yang mengcover seluruh area), refreshment (kelapa muda), transportasi local, kamar bilas dan toilet

Paint Ball, pakaian perang, kaca mata pelindung, pelindung badan, senjata semi otomatis dan 20 peluru.(Durasi 30 menit)

Menyusuri Sungai Purba
28Des06
Menyusuri aliran Bengawan Solo Purba sebuah tema yang cukup menantang, saya pun ikut acara itu hari minggu kemarin (17/12/2006). Mengingat untuk ke lokasi harus melewati jalan menanjak, sering crowded dan lumayan jauh, maka kami bermalam di rumah teman di daerah Wonosari (sekitar 50an km dari Dermaga Sadeng). Esok paginya jam 5.30 baru kami berangkat. Jalan aspal menuju Sadeng berada diantara perbukitan kapur dan sesekali terlihat jurang curam yang indah.
Pegunungan kapur konon ceritanya adalah dasar lautan, jadi sekarang nampak bagaikan bukit-bukit karang. Pantai Laut Selatan Jawa “didongkrak” oleh proses alami tumbukkan lempeng bumi, sehingga permukaanya naik melebihi daratan (berlangsung selama ribuan sampai jutaan tahun). Hasilnya sekarang menjadi pemandangan yang indah, dimana lagi kalau tidak di pegunungan seribu Kabupaten Gunung Kidul.
Lintas alam ini menyusuri lereng bukit-bukit cadas putih yang panas sepanjang lebih kurang 10 km (dari rencana semula 22 km). Beberapa ruas jalan merupakan jalan setapak melewati areal bercocok tanam masyarakat setempat.
Di daerah yang termasuk susah air ini ada terlihat juga sebuah tandon air besar yang mungkin dibangun oleh PDAM dengan sumber air dari gua kecil dalam tanah (lihat peta tepatnya di Desa Sumberagung). Disebelahnya daerah bernama Tlogo Asat, mungkin daerah ini dulunya berisi air. Penduduk disekitar perbukitan itu sangat jarang, tidak dijumpai rumah sama sekali disekitar lokasi hiking. Ini memang daerah yang tidak mudah untuk dihuni.
Setelah melewati jalan-jalan setapak di lereng-lereng bukit kapur, jalan aspal mulai terlihat kembali menjelang rute perjalanan terakhir. Tapi..(ga’ seperti yang dilihat) untuk mencapainya masih harus melewati jalan berliku-liku yang cukup panjang dan panas . Beberapa orang dan saya pun sempat terpeleset kerena tanahnya licin.
Walaupun kegerahan tapi saya puas dengan perjalanan lintas alam ini. Kesempatan untuk berolah raga sambil menikmati pemandangan langka. Sekaligus juga bisa menguji kemampuan fisik. Ternyata fisik saya masih ok, no problem dengan jalan cepat 10 km naik turun bukit & dibawah terik matarahi
Dalam acara ini rupanya banyak yang bertanya-tanya: dimana sih Aliran Bengawan Solo Purba yang disebut-sebut. Karena kita ngga merasa melalui daerah sungai apapun. Tak banyak yang tahu, termasuk panitia !?
Sepanjang lintasan aspal kembali ke Sadeng saya berjalan diantara dua lajur perbukitan kapur yang tinggi dengan tebing curam. Sebuah pemandangan yang indah dan menakjubkan. Mengamati irama perbukitan dan jalanan, perasaan saya mengatakan ini mirip dengan sungai. Inikah dasar sungai purba itu yang menuju ke laut dan Dermaga Sadeng adalah muaranya?
Pertanyaan tadi terjawab setelah saya lihat peta countur yang terdapat tanda aliran Bengawan Solo Purba. Ya.. tepat dugaan saya, sejak awal tadi saya bertemu jurang yang curam dan indah dalam perjalanan menuju Sadeng. Jalan yang saya lewati dalam lintas alam sampai ke pantai Sadeng adalah aliran Bengawan Solo Purba! Wow.. hebat & besar Bengawan Solo itu ! Mungkin bekas Bengawan Solo ini akan tampak lebih jelas bila dilihat dari foto udara.
Alur sungai itu diperkirakan aktif sekitar 5 juta tahun yang lalu! belum ada manusia dong? Pantas saja ngga pada merasa melewati bekas sungai pasti telah banyak sekali perubahan. Sekarang saja digunakan untuk bercocok tanam. Sulit membayangkan akhirnya sekarang Bengawan Solo mengalir ke utara ke Laut Jawa (bermuara di Gresik, Jatim). Mungkin karena perbukitan seribu meninggi dan mengepung aliran sungai sehingga mengalir ke laut utara? (jadi ingat lagu Bengawan Solo karya mbah Gesang) Subhanallah.. luar biasa kuasa Allah.
Yang terlewat adalah saya tidak sempat melihat-lihat lebih detil Dermaga Sadeng itu sendiri, seperti pelabunan dan pelelangan ikan, gimana sih.. tapi itu semua karena kesibukan pada masalah hiking saja.
Buat Badan Pariwisata Prop. DIY next time kalau mengadakan acara seperti itu, pikirkan juga aspek pengenalan lokasi kepada peserta, karena mengenal lokasi cukup bernilai tinggi.
– – –

Thanx to Mas Enka…..
Apa kabar Solo….?